Kamis, 20 Desember 2012

Serial Cinta -Anis Matta-

Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar. 

Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bias menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutna-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta.




Demikian cuplikan dari buku karya Anis Matta, "Serial Cinta". Namun buku ini memberikan pengertian kepada para pembacanya makna lain dari cinta. Bahwa sungguh cinta adalah kata kerja, maka tak jadi soal siapa objeknya. Sebab cinta itu dibangun terus-menerus, dan mari lupakan cinta yang tak sampai di pelaminan..


Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab..


Ingin tahu lebih jauh? Selamat membaca teman :)


Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar. 

Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bias menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutna-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta.




Demikian cuplikan dari buku karya Anis Matta, "Serial Cinta". Namun buku ini memberikan pengertian kepada para pembacanya makna lain dari cinta. Bahwa sungguh cinta adalah kata kerja, maka tak jadi soal siapa objeknya. Sebab cinta itu dibangun terus-menerus, dan mari lupakan cinta yang tak sampai di pelaminan..


Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab..


Ingin tahu lebih jauh? Selamat membaca teman :)


Eliana (Serial Anak-Anak Mamak)

Akhirnya, buku ketiga serial anak mamak selesai saya baca. Eliana, anak sulung keluarga mamak dan bapak terkenal sebagai anak yang pemberani.


Jika kalian terlahir sebagai anak sulung, pasti terasa sekali Tere Liye yang sedemikian menyelami rasanya posisi anak sulung dalam keluarga. Benar-benar tersa nyata. Dalam lembar-lembar buku ini, seperti tak kehabisan ide, Tere Liye selalu memiliki segudang kata-kata yang mencerahkan. Tak percaya, berikut petikan dalam kisah di novel ini.

“Tidak selalu yang kau pikirkan itu benar. Tidak selalu yang kau sangkakan itu kebenaran. Kalau kau tidak mengerti alasan sebenarnya bukan berarti semua jadi buruk dan salah menurut versi kau sendiri.”
--

“Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik.”
--

Dan berikut petikan ucapan Eliana, anak mamak yang pemberani saat membela Bapaknya yang hendak mempertahankan kampungnya :

"Kami memang miskin. Baju ini juga lungsuran, dibeli di pasar loak. Lantas kenapa? Apa itu hina? kehidupan rendahan? Asal kau tahu, Bapakku tidak akan pernah menjual seluruh kampung kepada kalian."-Eliana-

Bagaimana? Tertarik membaca? :)
Akhirnya, buku ketiga serial anak mamak selesai saya baca. Eliana, anak sulung keluarga mamak dan bapak terkenal sebagai anak yang pemberani.


Jika kalian terlahir sebagai anak sulung, pasti terasa sekali Tere Liye yang sedemikian menyelami rasanya posisi anak sulung dalam keluarga. Benar-benar tersa nyata. Dalam lembar-lembar buku ini, seperti tak kehabisan ide, Tere Liye selalu memiliki segudang kata-kata yang mencerahkan. Tak percaya, berikut petikan dalam kisah di novel ini.

“Tidak selalu yang kau pikirkan itu benar. Tidak selalu yang kau sangkakan itu kebenaran. Kalau kau tidak mengerti alasan sebenarnya bukan berarti semua jadi buruk dan salah menurut versi kau sendiri.”
--

“Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik.”
--

Dan berikut petikan ucapan Eliana, anak mamak yang pemberani saat membela Bapaknya yang hendak mempertahankan kampungnya :

"Kami memang miskin. Baju ini juga lungsuran, dibeli di pasar loak. Lantas kenapa? Apa itu hina? kehidupan rendahan? Asal kau tahu, Bapakku tidak akan pernah menjual seluruh kampung kepada kalian."-Eliana-

Bagaimana? Tertarik membaca? :)

Pukat (Serial Anak-Anak Mamak)

Superr... Inilah buku serial kedua tentang anak-anak mamak -Pukat- karya Tere Liye. Memliki visi yang sama, Tere Liye hendak mengingatkan para pembaca tentang besarnya kasih sayang Ibu.

"Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian".

Pukat, anak kedua dari mamak dan bapak, adalah anak yang cerdas dan pintar. Dan itu pula yang selalu ditanamkan Mamak dan Bapak kepada Pukat. Hingga kelak ia dewasa, Pukat sungguh percaya akan keyakinan yang ditanamkan kedua orangtuanya tentang dirinya itu.


Tere Liye kembali memanjakan kita dengan suasana alam asri di perkampungan tempat keluarga mamak tinggal. Kini fokus yang berusaha digali adalah tentang sudut pandang Pukat, si anak cerdas. Pukat mewakili mimpi anak-anak Indonesia, tak pantang menyerah dan yakin mampu mewujudkan mimpinya. Insya Allah kita pun demikian, hehe.

Membaca kisah ini juga kisah dalam novel sebelumnya, Burlian, sungguh mampu mencerahkan hari-hari kita. Lagi, ada banyak hikmah yang dapat kita ambil, disamping mengisi waktu senggang kita. Jadi, selamat membaca. Yang mau pinjam, hayuk boleh :)


Superr... Inilah buku serial kedua tentang anak-anak mamak -Pukat- karya Tere Liye. Memliki visi yang sama, Tere Liye hendak mengingatkan para pembaca tentang besarnya kasih sayang Ibu.

"Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian".

Pukat, anak kedua dari mamak dan bapak, adalah anak yang cerdas dan pintar. Dan itu pula yang selalu ditanamkan Mamak dan Bapak kepada Pukat. Hingga kelak ia dewasa, Pukat sungguh percaya akan keyakinan yang ditanamkan kedua orangtuanya tentang dirinya itu.


Tere Liye kembali memanjakan kita dengan suasana alam asri di perkampungan tempat keluarga mamak tinggal. Kini fokus yang berusaha digali adalah tentang sudut pandang Pukat, si anak cerdas. Pukat mewakili mimpi anak-anak Indonesia, tak pantang menyerah dan yakin mampu mewujudkan mimpinya. Insya Allah kita pun demikian, hehe.

Membaca kisah ini juga kisah dalam novel sebelumnya, Burlian, sungguh mampu mencerahkan hari-hari kita. Lagi, ada banyak hikmah yang dapat kita ambil, disamping mengisi waktu senggang kita. Jadi, selamat membaca. Yang mau pinjam, hayuk boleh :)


Burlian (Serial Anak-Anak Mamak)

"Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian".


Ini adalah serial tentang kekuatan cinta dalam keluarga. Tere Liye, lewat novelnya ini mengangkat kisah tentang keluarga mamak dan bapak, sebuah keluarga kecil bahagia di desa asri dan sederhana. Pun dengan kisah yang disajikan, nampaknya sederhana tetapi mampu menyentuh ruang-ruang hati kita. Jika kalian ingin membaca bacaan ringan tapi sarat hikmah dan makna, maka ini adalah buku yang tepat. Tere liye membawa kita kembali mengingat akan rasanya bahagia di masa kanak-kanak kita dulu, juga mengajarkan tentang indahnya kasih sayang kedua orang tua, tentang tanggung jawab, pengorbanan, penghargaan, cinta, dan nilai-nilai lain yang kita pikir mungkin demikian sederhana, tapi menenteramkan sunggguh..



Burlian, buku pertama dalam serial anak-anak mamak, berkisah tentang anak ketiga mamak bernama Burlian yang diyakini mamak dan bapak sebagai anak yang spesial. Hingga kelak dalam masa perkembangannya kalian sungguh dapat melihat betapa spesialnya Burlian. Keyakinan itu ditanamkan dan tumbuh bersama dengan perkembangan Burlian dalam menjalani kisah hidupnya. Membaca buku ini, sungguh seolah kita dibawa bersama berpetualang di kampung kecil tempat Burlian dibesarkan. Mengasyikkan, menyenangkan, mengharukan. Luar Biasa. Selamat membaca :)

"Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian".


Ini adalah serial tentang kekuatan cinta dalam keluarga. Tere Liye, lewat novelnya ini mengangkat kisah tentang keluarga mamak dan bapak, sebuah keluarga kecil bahagia di desa asri dan sederhana. Pun dengan kisah yang disajikan, nampaknya sederhana tetapi mampu menyentuh ruang-ruang hati kita. Jika kalian ingin membaca bacaan ringan tapi sarat hikmah dan makna, maka ini adalah buku yang tepat. Tere liye membawa kita kembali mengingat akan rasanya bahagia di masa kanak-kanak kita dulu, juga mengajarkan tentang indahnya kasih sayang kedua orang tua, tentang tanggung jawab, pengorbanan, penghargaan, cinta, dan nilai-nilai lain yang kita pikir mungkin demikian sederhana, tapi menenteramkan sunggguh..



Burlian, buku pertama dalam serial anak-anak mamak, berkisah tentang anak ketiga mamak bernama Burlian yang diyakini mamak dan bapak sebagai anak yang spesial. Hingga kelak dalam masa perkembangannya kalian sungguh dapat melihat betapa spesialnya Burlian. Keyakinan itu ditanamkan dan tumbuh bersama dengan perkembangan Burlian dalam menjalani kisah hidupnya. Membaca buku ini, sungguh seolah kita dibawa bersama berpetualang di kampung kecil tempat Burlian dibesarkan. Mengasyikkan, menyenangkan, mengharukan. Luar Biasa. Selamat membaca :)

 
Membaca Mencerahkan Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template